Penerbitan buku Kumpulan Budak Setan di tahun 2010 diikuti oleh serangkaian kejutan yang menyenangkan buat kami bertiga. Buku itu, sebagaimana yang kami tulis dalam kata pengantar di dalamnya, adalah kumpulan cerita yang menelusuri dan mengolah genre horor melalui pembacaan ulang atas karya-karya Abdullah Harahap. Saat kami memulai proyek “Abdullah Harahap” di tahun 2008 (pada waktu itu nama Kumpulan Budak Setan belum muncul), kami kesulitan menemukan tulisan tentang beliau. Selain sebuah penelitian tentang novel-novel erotis di tahun 1970-an, hasil penelusuran yang muncul pada mesin pencari Google sangat sedikit. Pencatatan, seperti yang kita tahu, adalah problem lama yang tak kunjung selesai di Indonesia. Karya-karya yang dianggap populer atau ‘picisan’ — apalagi yang dicetak penerbit kecil dan hanya beredar di pasar, stasiun atau toko buku loak – sering kali berada di luar radar kritikus atau institusi yang diharapkan melakukan kerja seputar telaah dan pengarsipan.

Akan tetapi, di tahun 2010, sejumlah novel Abdullah Harahap diterbitkan kembali pada waktu yang berbarengan dengan Kumpulan Budak Setan. Tak lama kemudian, ia diwawancarai dan diundang untuk berbicara di berbagai forum, termasuk dalam sebuah acara sastra di Taman Ismail Marzuki. Kini, lewat internet, kita bisa mengintip obrolan pembaca yang saling bertukar pendapat tentang novel seperti Misteri Lemari Antik, Sumpah Berdarah, atau Penjaga Kubur (sekadar menyebut sedikit dari 100 lebih karya beliau). Beberapa pembaca bahkan berkomentar bahwa buku Kumpulan Budak Setan tidak sengeri karya-karya Abdullah Harahap. Seluruh perhatian dan kejutan ini sungguh menggembirakan. Kami sangat berduka ketika Pak Abdullah, penulis yang sangat produktif sekaligus pribadi yang hangat, wafat di tahun 2015. Namun kami percaya bahwa ia meninggalkan warisan yang berharga sebagai seorang penulis, dan kami senang karya kami bisa menjadi bagian kecil dari upaya merayakan kepengarangan beliau. Kami yakin Abdullah Harahap akan selalu diingat, dengan atau tanpa Kumpulan Budak Setan.

Proyek Kumpulan Budak Setan #2 mengambil kelokan yang agak berbeda dari versi sebelumnya. Pertama, kami mengundang penulis lain untuk terlibat dalam proyek ini. Kedua, ketimbang membaca ulang karya seorang atau beberapa penulis, kami ingin menggarisbawahi aspek yang sering kali terlewat saat buku itu dibicarakan. Kumpulan Budak Setan, selain ditulis sebagai persembahan untuk Abdullah Harahap, adalah sebuah eksplorasi atas genre horor. Pada pengantar buku kami menulis: “Dalam Kumpulan Budak Setan, sembari mengolah konvensi genre horor, kami juga memandang horor sebagai moda yang dipertukarkan di berbagai ranah, dari panggung politik hingga kehidupan sehari-hari.” Maka, enam tahun setelah penerbitan Kumpulan Budak Setan, kami ingin mengundang penulis lain untuk menimbang genre horor dan menyodorkan pemaknaan mereka atas horor melalui medium cerita pendek.

Lalu apakah itu horor? Pembahasan tentang genre tentu tidak terlepas dari konvensi. Abdullah Harahap, misalnya, menggunakan sejumlah ikonografi genre horor dalam karya-karyanya — arwah gentayangan, rumah besar yang mirip kastil, obyek bertuah, darah — maupun tema seperti rahasia, misteri, kematian, dan balas dendam. Kita mengenal horor dengan unsur supranatural yang kental, namun ada pula horor yang lebih berdarah-darah dan mengakibatkan mual. Sebagian konvensi bahkan menciptakan subgenre sendiri (misal: cerita zombie). Di luar itu, konvensi membuat kita bertanya-tanya: Apakah cerita X cukup seram untuk disebut horor? Apakah cerita Y horor, fantasi, atau sesuatu yang lain? Kita tahu bahwa ikon horor monster ciptaan Dr. Frankenstein berasal dari novel yang dianggap sebagai pelopor fiksi sains. Cerita-cerita gelap William Faulkner, yang menggoyahkan pemahaman kita atas batas-batas kemanusiaan tanpa banyak menghadirkan ‘hantu’ dan darah, juga bisa dikategorikan sebagai horor.

Mungkin kita bisa melihat horor lewat efek yang ditimbulkannya: rasa takut. Dalam esainya yang terkenal, “Supernatural Horror in Literature,” penulis horor H.P. Lovecraft menyebut bahwa rasa takut adalah emosi tertua dan terdalam yang dialami manusia, dan rasa takut paling kuat adalah ketakutan terhadap yang tak dikenali. Setidaknya ada dua hal yang bisa kita ambil dari sini. Pertama, horor terkait dengan emosi, dan ia telah hadir sejak Qabil dan Habil menghadapkan kita pada ngerinya hasrat membunuh dalam hubungan persaudaraan. Kedua, kegelisahan atas yang asing, yang membuat kita mempertanyakan seberapa banyak yang kita ketahui, bisa menjadi sumber ketakutan terlepas dari formula yang kita bayangkan (monster, setan, siluman, dan lainnya). Manusia jadi-jadian dalam serial Manusia Harimau karya SB Chandra maupun kelamnya hubungan antar-manusia dalam drama Motinggo Boesye, Malam Jahanam, adalah horor dengan wajah berbeda.

Definisi Lovecraft tentang rasa takut membuka ruang untuk menelusuri horor sejauh-jauhnya. Lovecraft sendiri, seperti yang ia tuliskan dalam esainya yang lain, “Notes on Writing Weird Fiction,” menggunakan kata “weird” atau “aneh” untuk mengidentifikasi karyanya. Cerpen-cerpen awalnya muncul di Weird Tales, majalah terkenal di tahun 1920-1930-an yang menerbitkan cerita fantasi, horor, dan fiksi sains dalam satu payung besar: “aneh.” Inspirasi dari cerpen-cerpen Weird Tales cukup eklektik, dari Washington Irving hingga Arthur Conan Doyle, dari Mary Shelley hingga H.G. Wells. Melalui istilah “weird fiction,” Lovecraft menjembatani sekat-sekat genre dan dengan demikian membuat batas horor menjadi lebih cair.

Dalam proyek Kumpulan Budak Setan #2, ketimbang menjabarkan ikonografi genre atau tema yang memungkinkan untuk diolah para penulis, kami merujuk pada horor sebagai penggalian rasa takut terhadap apa yang tidak kita kenali; ia menjanjikan pertemuan dengan yang mengusik atau mengganggu. Gangguan bisa muncul dalam bermacam rupa; sebagian dari kita takut pada hasrat tak terkendali dalam diri sendiri, sebagian lagi pada orang asing, pengetahuan baru, atau ideologi tertentu. Horor, sebagaimana yang kami tulis pada pengantar Kumpulan Budak Setan pertama, “tak melulu soal hantu, tetapi ruang liyan yang menciptakan kemungkinan runtuhnya “realitas” yang seharusnya, tatanan yang kita percaya.”

Berdasarkan pertimbangan di atas, undangan ini kami sampaikan. Siapapun penulis horor favorit Anda, baik itu Abdullah Harahap, Edgar Allan Poe, SB Chandra, atau Angela Carter, kami menyambut upaya menelusuri horor dengan segala ragamnya. Barangkali kami akan menemukan jejak-jejak konvensi horor yang membuat kami teringat pada rumah sebab ia terasa akrab, namun kami juga bersiap untuk dikejutkan oleh dimensi teror yang tak terduga. Singkat kata, kami mengajak Anda menimbang kesetiaan maupun pengkhianatan terhadap genre demi sebuah perjalanan menempuh rasa takut yang mendebarkan.

Eka Kurniawan
Intan Paramaditha
Ugoran Prasad